Pada tanggal 23 Desember 1957 di Jakarta berdiri PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, selanjutnya tahun 1967 PKBI diterima menjadi anggota Federasi Keluarga Berencana Internasional atau IPPF (International Planned Parenthood Federation). Dua tahun kemudian, tepatnya 1969 PKBI berdiri di DIY.

Semakin berkembangnya PKBI DIY diberbagai program dan untuk melibatkan seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di DIY, sehingga pada tahun 1992 PKBI mendirikan cabang di Kabupaten Sleman. Seiring berjalannya waktu PKBI Cabang Sleman pernah beberapa waktu tidak aktif dengan berbagai kendala dilapangan dan aktif kembali pada tahun 2003 sampai sekarang. Pada tahun tersebut program pertama yang dijalankan adalah pemberdayaan PRT di Nogotirto.

Perjalanan  program  penanggulangan  HIV&AIDS  dari  tahun  2005  –  2012,  dengan  dukungan  HIVOS,  telah megantarkan PKBI  DIY dan cabang Sleman mencapai sebuah situasi pengorganisasian dengan basis material yang lebih konkret, yakni lahirnya Organisasi Berbasis Komunitas  (CBO / Community Based Organization). Mulai dari tahun 2007 memiliki komunitas desa di Kecamatan Sleman dan Kecamatan Cangkringan, dimasing-masing kecamatan mimiliki 3 desa dampingan. PKBI Sleman pada tahun 2010-2011, mulai mendampingi remaja jalanan yang berada di wilayah Jombor. Tetapi dari tahun 2012-sekarang tidak jalan karena tidak adanya SDM yang melanjutkan.

Di tahun 2015, PKBI Sleman kembali menggeliat dengan program andalan tetap di PRS (Pendampingan remaja sekolah) yaitu mendampingi 12 sekolah,  yang terdiri sari 10 SMA, yaitu SMAN 1 Sleman, SMAN 1 Turi, SMAN 1 Godean, SMA Muhammadiyah 1 Sleman, SMK Muhammadiyah 2 Sleman, SMK Kesehatan Binatama, SMK N 1 Kalasan, SMK Penerbangan, SMA Tiga Maret,  SMAN 1 Pakem. Sedangkan 2 SMP adalah SMPN 1 Berbah dan SMP Muhammadiyah 3 Mlati.

Sedangkan di Program Komunitas desa, PKBI Sleman mendampingi 6 desa yaitu Desa Donoharjo, di Kecamatan Ngaglik, Desa Pakembinangun di Kecamatan Pakem, Desa Pandowoharjo di Kecamatan Sleman, Desa Argomulyo di Kecamatan Cangkringan, Desa Caturtunggal di Kecamatan Desa dan Desa Sendangadi di Kecamatan Mlati.

Langkah  berani yang dilakukan PKBI Sleman adalah mecoba untuk membangun komunitas PPS di kawasan Prambanan, Kalasan. Komunitas PPS ini telah mampu merestrukturisasi dari kepengurusan sebelumnya yang cukup amburadul. Komunitas PPS ini menamakan diri sebagai Jonggrang. Lalu ada komunitas Transgender yang juga menjadi dampingan dari PKBI Sleman yaitu para transgender yang beroperasi di sekitar Jalan Solo, yang sebelumnya komunitas ini juga ada permasalahan, namun bisa diselesaikan dengan jalan mundur dari organisasi sebelumnya dan mendirikan organisasi baru, yaitu Ikatan Waria Sleman(IWS) dengan harapan lebih dapat memberikan peningkatan kapasitas bagi para anggotanya agar berdaya dan mandiri. Pun dalam komunitas Gay, PKBI Sleman mendampingi 2 Himpunan Mahasiswa Gay UGM dan UNY. Walaupun berjalan tersendat, namun PKBI Sleman optimis dengan perkembangan dari Komunitas Himag yang masih dapat berkembang lebih baik lagi.

Dan pada tahun 2016, PKBI Sleman kembali mendampingi beberapa titik komunitas yang dianggap strategis dalam upaya pemenuhan hak seksual dan reproduksi. Pada mandate ini masih dalam pendampingan yang sama pada tahun 2015. Namun ada beberapa kendala yang ditemui dari proses regulasi dalam system  internal komunitas sampai pada konflik antar kepentingan di dalam personal komunitas tersebut.

Pada pengorganisasian di remaja sekolah khususnya di PKBI sleman mendampingi kasus Kehamilan Tidak Diinginkan, remaja depresi dan  pada remaja di salah satu dampingan PKBI Sleman